Kenapa Orang Terpesona Oleh Joker?
Kegilaan Joker juga dapat ditinjau dari pisau psikoanalisis Sigmund Freud. Freud percaya bahwa manusia pada dasarnya memang memiliki hasrat besar untuk melakukan kekerasan. Namun, karena membahayakan kelangsungan hidup, masyarakat sepakat membuat seperangkat aturan untuk mengekang pelampiasan hasrat tersebut. Inilah cikal bakal peradaban dan seperangkat normanya.
Hal tersebut kurang lebih sama dengan gagasan Thomas Hobbes mengenai “Leviathan”. Bermula dari ketidakpercayaannya mengenai konsep “Illusory Superiority” (sebuah bias dalam pikiran manusia yang memandang hal baik dalam dirinya secara berlebihan), Hobbes menganggap manusia secara naluriah adalah mahluk amoral. Maka dari itu diperlukan aturan-aturan yang bersifat memaksa agar mereka tidak saling berbuat jahat yang merugikan kehidupan bermasyarakat.
Kendati gagasan Freud dan Hobbes dianggap berguna demi kehidupan kolektif, efek pengekangan yang berasal dari norma atau aturan tersebut dapat menimbulkan depresi atau bahkan gangguan kejiwaan. Untuk melampiaskannya, manusia pun mencari alternatif, salah satunya kekerasan verbal. Itulah kenapa lelucon yang menertawakan cacat tubuh dapat membuat sebagian orang tertawa terbahak-bahak.
Pada level yang ekstrem, efek pengekangan tersebut melahirkan sosok dengan karakter seperti Joker. Sebab hanya (orang seperti) dirinya yang berani mengonfrontasi apa yang disebut Carl Jung sebagai “Shadow” (insting kebinatangan yang disembunyikan di balik persona) lalu menjadikannya sebagai identitas diri. Ditambah dengan segala kepahitan hidup yang ia alami, Joker dengan terang mempersetankan segala aturan di luar dirinya seraya menggugat kemapanan.
Transformasi tersebut membuat Joker dapat ditafsirkan sebagai—meminjam istilah Nietzsche—ubermensch. Selain karena ia telah mencapai level sempurna dalam “kehendak untuk berkuasa”, Joker juga melambangkan mentalitas Dionysian (kebudayaan yang mengagungkan unsur kekacaubalauan dan keacakan berpikir), antitesis dari mentalitas Apollonian yang melulu tertib dan serius, sesuatu yang dengan jelas direpresentasikan oleh Batman.
Maka perlukah diherankan jika Joker percaya betul bahwa “satu-satunya cara paling waras untuk bertahan di dunia adalah tanpa aturan”? Sebuah sikap yang secara tak langsung menerjemahkan konsep Nietzsche mengenai "Kematian Tuhan".
Mengapa Joker Memukau?
Ada kutipan menarik dalam “Why Vampires Never Die”, esai yang ditulis oleh Guillermo Del Toro bersama Chuck Hogan dan tayang di New York Times pada 2009 lalu: “Monster, sebagaimana malaikat, diciptakan demi kebutuhan kita sendiri.”
Esai tersebut menjelaskan mengapa sosok monster penuh teror seperti vampir—yang basis kisahnya dalam literatur diciptakan oleh John William Polidori pada 1819 silam lewat “The Vampyre"—dapat pula dijumpai di nyaris setiap kebudayaan. Dalam mitologi Hindu India, ada Vetala. Di China ada Ching Shih. Di Rumania terdapat Strigoi.
Vampir, masih seturut esai tadi, bisa jadi merupakan sosok yang berasal dari ingatan manusia sebagai primata. Ditinjau dari konteks kehidupan prasejarah, vampir memenuhi kebutuhan kanibalistik manusia. Setelah manusia hidup dalam peradaban yang lebih baik, sosok vampir dikekalkan sebagai penanda bahwa konstruksi sosial dengan seperangkat normanya mewajibkan manusia mengekang hawa nafsu.
Joker, sebagaimana vampir dalam pengertian Del Toro, menjadi menarik karena ia dianggap mampu mewakili sisi jahat manusia yang disembunyikan di balik ketiak normalitas. Namun utamanya, ia adalah simbol perlawanan yang muncul akibat hidup tidak berlaku adil. Lewat pemerian semacam itulah Joker menjadi pribadi yang anti-sosial, nihilistik, serta berhasrat memperlihatkan bahwa siapa saja bisa menjadi dirinya.
Sebagaimana yang dikatakan Joker kepada Batman dalam The Dark Knight: “Aturan moral mereka (masyarakat) adalah lelucon yang buruk. Lenyap sejak masalah muncul. Mereka hanya akan menjadi baik sebagaimana yang diinginkan dunia. Lihatlah, akan kuperlihatkan. Ketika segala hal berantakan, uh, orang-orang beradab ini akan saling memakan satu sama lain.”
Kendati pada akhirnya Joker selalu berhasil diringkus Batman, ia tidak pernah benar-benar kalah. Sebab, bagaimana mungkin mengalahkan seseorang yang sebetulnya tidak pernah punya tujuan?
Vampir, masih seturut esai tadi, bisa jadi merupakan sosok yang berasal dari ingatan manusia sebagai primata. Ditinjau dari konteks kehidupan prasejarah, vampir memenuhi kebutuhan kanibalistik manusia. Setelah manusia hidup dalam peradaban yang lebih baik, sosok vampir dikekalkan sebagai penanda bahwa konstruksi sosial dengan seperangkat normanya mewajibkan manusia mengekang hawa nafsu.
Joker, sebagaimana vampir dalam pengertian Del Toro, menjadi menarik karena ia dianggap mampu mewakili sisi jahat manusia yang disembunyikan di balik ketiak normalitas. Namun utamanya, ia adalah simbol perlawanan yang muncul akibat hidup tidak berlaku adil. Lewat pemerian semacam itulah Joker menjadi pribadi yang anti-sosial, nihilistik, serta berhasrat memperlihatkan bahwa siapa saja bisa menjadi dirinya.
Sebagaimana yang dikatakan Joker kepada Batman dalam The Dark Knight: “Aturan moral mereka (masyarakat) adalah lelucon yang buruk. Lenyap sejak masalah muncul. Mereka hanya akan menjadi baik sebagaimana yang diinginkan dunia. Lihatlah, akan kuperlihatkan. Ketika segala hal berantakan, uh, orang-orang beradab ini akan saling memakan satu sama lain.”
Kendati pada akhirnya Joker selalu berhasil diringkus Batman, ia tidak pernah benar-benar kalah. Sebab, bagaimana mungkin mengalahkan seseorang yang sebetulnya tidak pernah punya tujuan?
